Pada tanggal 1 Oktober 1996, Lance Armstrong tercatat sebagai salah
satu pembalap sepeda papan atas dunia. Ia telah memenangkan Kejuaraan
Dunia Balap Sepeda (The World Cycling Championship). Ia telah
memenangkan Kejuaraan Balap Nasional Amerika (The U.S. National Road
Race Championship) dengan jarak yang paling jauh dalam sejarah kejuaraan
balap. Dan ia baru saja menandatangani kontrak untuk mendukung tim
balap Prancis yang prestisius selama dua tahun dengan bayaran 2,5 juta
dolar Amerika.
Pada tanggal 2 Oktober ia menjadi pasien kanker. Di awal minggu itu,
ia memuntahkan banyak darah, dan menemukan bahwa testisnya bengkak
sebesar jeruk. Kunjungan ke dokter mengungkapkan adanya kanker testis
yang telah menyebar ke paru-paru dan otak. Ketika operasi darurat
dijadwalkan saat itu juga, dokter yang memberi konsultasi pada Lance
mengatakan bahwa kesempatan berhasil 50% — tetapi kemudian mengakui
bahwa kesempatan hidup sebenarnya hanyalah 3%.
Namun Lance tidak pernah menyerah begitu saja. Dibesarkan hanya oleh
seorang ibu pekerja keras di kota Texas di daerah pinggiran yang
sederhana, ia belajar bersepeda sejak masih muda, berlomba triathlons
pada usia 15 tahun, dan memenangkan medali serta hadiah uang dengan
cukup cepat. Bersepeda 20 mil per hari dan latihan renang, rute tersebut
menjadi jalan keluar untuk Lance. “Mungkin jika aku mengayuh sepedaku
cukup jauh di jalan ini,” pikirnya, “hal itu akan mengeluarkanku dari
sini.”
Lance dikenal sebagai pembalap yang gigih dan pantang menyerah, sifat
yang diwarisi dari ibunya. Ibunya pernah sekali mendapati ia kelelahan
dan hampir berhenti di akhir lomba triathlon. “Anakku,” katanya, “kamu
tidak boleh berhenti… meskipun kamu harus berjalan.” Lance menyelesaikan
perlombaan itu, sampai garis akhir.
Bagi Lance, kanker adalah semacam perlombaan — tetapi kali ini ia
melawan waktu. Lance menghadapi penyakitnya sama seperti ketika ia
berlomba dengan sepedanya. Ia menjalani operasi untuk menghilangkan
tumor dan kemudian kemoterapi selama berbulan-bulan. Untuk pertama
kalinya pembalap sepeda yang pernah ada — yang kapasitas aerobiknya
paling tinggi dalam penelitian laboratorium di seluruh negeri —
tulangnya menjadi lemah, tidak mampu mengayuh sepedanya sekalipun hanya
di sekitar rumah.
Namun ketika penyakit itu melemahkannya secara fisik, cobaan itu
justru menguatkannya secara spiritual. Kemoterapi selesai dan secara
ajaib ia bebas dari kanker, ia pelan-pelan kembali berlatih dan
menyadari bahwa kanker telah memberinya karunia yang tidak terduga:
perasaan cinta pada sepeda yang baru dirasakannya. Sebelumnya, sepeda
baginya hanyalah “Alat untuk mencapai tujuan… sumber potensial untuk
mencapai kekayaan dan popularitas.” Sekarang sepeda menjadi simbol dari
mantranya setelah menderita kanker, “Jika saya masih bisa bergerak, itu
artinya saya tidak sakit.”
Yang lebih mengejutkan lagi, kanker menyingkirkan hal yang menghambat
Lance yaitu kelebihan berat badan. Lance dulu dikenal sebagai pembalap
satu hari yang hebat tetapi tidak sehebat itu dalam stage race,
perlombaan yang berlangsung beberapa hari dan minggu yang memerlukan
kemampuan untuk mendaki daerah yang bergunung-gunung untuk mencetak
pembalap kelas dunia. Ia hanya pernah sekali menyelesaikan Tour de
France, mundur karena kelelahan dan kecelakaan di tahun-tahun yang lain.
Para pelatih dan temannya mengingatkannya kalau bobotnya terlalu berat
untuk dakian yang curam. Dengan tubuh yang kuat, Lance yakin dapat
memaksakan diri naik ke atas, mengabaikan beban yang harus dibawanya.
Namun setelah sembuh dari kanker, bobot tubuhnya menjadi 58,5 kg,
lebih ringan 6,3 kg dibandingkan berat badannya semula ketika berlomba.
Dan ketika ia mendaki jalur latihan di Pegunungan Blue Ridge — dan terus
mendaki — ia merasakan ada sesuatu yang berubah. Akhirnya ia siap untuk
menjadi pembalap terbaik dunia — dalam segala perlombaan, dalam segala
medan, dalam segala kondisi.
Kesadaran ini membawanya ke Tour de France 1999. Dalam percobaan
waktu awal, ia meraih hadiah maillot jaune, baju kuning yang dipakai
oleh pembalap terdepan. Meskipun baju tersebut berpindah pada pembalap
lain di tengah perlombaan tersebut, ia segera dapat merebutnya kembali
saat perlombaan menjadi sulit di dekat Alpen, tempat ia gagal
sebelumnya. Ketika perlombaan mencapai titik yang paling berat — di atas
bukit melalui hujan yang dingin — Lance melaju, dengan waktu jeda
terdepan 2 menit 20 detik, menjadi 6 menit 3 detik.
Ketika pembalap lain mencapai garis akhir di Paris, Lance melaju
dengan waktu terdepan yang tidak diragukan lagi 7 menit 37 detik. Ia
mencapai garis akhir disertai kemenangan lain: istrinya hamil melalui
vitro fertilization setelah kanker membuatnya tidak subur.
Lance memenangkan Tour de France kembali pada tahun 2000, 2001, 2002,
dan 2003, tetapi ia menulis: “Kenyataannya adalah, jika Anda meminta
saya untuk memilih antara memenangkan Tour de France atau kanker, saya
akan memilih kanker… karena apa yang telah diberikannya pada saya
sebagai seorang manusia, pria, suami, anak, dan ayah.” Ketika melawan
kanker, ia mengalahkan musuh terbesar kehidupan: kegagalan. Ia menolak
prakiraan bahwa ia tidak akan sembuh karena ia memiliki harapan. Ia
memiliki keyakinan — dalam keberaniannya, akan masa depan, pada dirinya
sendiri — mengalahkan keraguan.
Lance merangkum hal itu dengan sangat bagus: “Saya tahu sekarang
mengapa orang takut dengan kanker. Karena kanker itu lambat dan
mematikan; itulah definisi yang sebenarnya dari sinisme dan kehilangan
semangat.”
“Maka, saya percaya.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar